Rabu, 16 Juli 2014

PEMANFAATAN LIMBAH KAYU JATI UNTUK PERKUATAN KAYU SENGON SEBAGAI BALOK LAMINASI



PEMANFAATAN LIMBAH KAYU JATI UNTUK
PERKUATAN KAYU SENGON SEBAGAI BALOK LAMINASI

Woro Yuniarti, Nurokhman, Fakhri Muhammad, Firda Oktika UN, Ahdian Agus H
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES)
Kampus Unnes Gd. E4, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229,

ABSTRAK

         Keterbatasan ukuran kayu struktural semakin mahal dan sulit untuk diperoleh. Oleh karena itu perlu adanya suatu upaya  teknologi pengolahan kayu yang mampu mengatasi permasalahan tersebut. Kayu Sengon termasuk dalam jenis kayu yang dapat dengan cepat tumbuh, mudah di dapat tetapi penggunaannya sebagai bahan konstruksi belum optimal.Teknologi yang digunakan guna mendukung kayu sebagai bahan konstruksi adalah dengan laminasi.  Laminasi (glulam) adalah gabungan dari satu macam bahan ataupun lebih dimana bahan tersebut dibuat  menjadi lapisan-lapisan yang relatif tipis yang direkatkan satu sama lain sehingga membentuk dimensi yang lebih besar. Rekayasa eksperimen dilakukan dengan membuat balok laminasi dari kayu Sengon dan kayu Jati
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kuat lentur balok kayu laminasi dalam perkuatan kayu sengon sebagai pengganti balok struktur, dan target penelitian ini untuk mengetahui kuat lentur balok kayu laminasi dalam perkuatan sisi lemah balok, serta secara akademis dapat memberikan wawasan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam pemanfaatan sistem kayu laminasi sebagai balok bangunan rumah tinggal sederhana, dan dari hasil penelitian ini diharapkan sistem laminasi kayu dapat menjadi alternatif dalam memenuhi kebutuhan balok struktur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen yang dilakukan dengan mengadakan penelitian di Laboratorium Bahan dan Laboratorium Kerja Kayu Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengujian kuat lentur kayu laminasi.
Kata Kunci: kayu sengon, kayu jati, laminasi, kuat lentur.



PENDAHULUAN
Penggunaan kayu dalam dunia konstruksi terus mengalami peningkatan baik untuk pemakaian struktural maupun non struktural. Kebutuhan kayu yang sangat besar berdampak pada ketersediaan kayu yang semakin berkurang setiap tahunnya akibat eksploitasi yang dilakukan secara besar-besaran. Keterbatasan ukuran kayu struktural semakin mahal dan sulit untuk diperoleh . Oleh karena itu perlu adanya suatu upaya  teknologi pengolahan kayu yang mampu mengatasi permasalahan tersebut. Penggunaan kayu kebanyakan juga terbatas pada kayu yang umum dipakai untuk kebutuhan konstruksi antara lain kayu jati, kayu sono keling, kayu meranti dll. Sementara itu kayu sengon yang dapat dengan mudah untuk diperoleh,  pemanfaatannya belum  optimal.
     Bahan baku kayu dapat dimanfaatkan secara efisien dengan penerapan teknologi pengawetan, pengeringan, pemanfaatan kayu sisa dan lain sebagainya. Teknologi yang digunakan guna mendukung kayu sebagai bahan konstruksi adalah dengan laminasi. Laminasi (glulam) adalah gabungan dari satu macam bahan ataupun lebih dimana bahan tersebut dibuat  menjadi lapisan-lapisan yang relatif tipis yang direkatkan satu sama lain sehingga membentuk dimensi yang lebih besar. Penelitian ini akan mencoba menerapkan teknologi laminasi  dengan memanfaatkan kayu jati dan kayu sengon berupa balok laminasi (glulam beam) dan kolom laminasi (glulam column) untuk kebutuhan konstruksi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar peningkatan kuat lentur balok kayu laminasi dalam perkuatan kayu sengon sebagai pengganti balok struktur. Keutamaan dari penelitian ini adalah adanya upaya untuk meningkatkan mutu dan kualitas kayu serta pengembangan dalam penerapannya sebagai bahan konstruksi yaitu meningkatkan mutu kayu sengon sehingga dapat digunakan sebagai bahan konstruksi dengan metode laminasi menggunakan limbah kayu jati. Luaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah menciptakan balok laminasi struktural yang ramah lingkungan dan cepat dalam proses pengerjaannya. Melalui program ini juga kami mengharapkan mampu meningkatakan kualitas kayu kelas rendah dengan memanfaatkan limbah kayu jati dalam perkuatan kayu sengon guna kebutuhan  konstruksi. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan agar limbah kayu jati dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kayu sengon  dengam metode laminasi. sebagai pengganti balok struktur

Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat, antara lain: (1) Memberikan alternative penggunaan kayu dengan penerapan teknologi kayu laminasi dari kayu kelas kuat rendah, kayu yang mudah diperoleh dan dibudidayakan serta harganya yang relative murah; (2) Memberikan kepercayaan kepada masyarakat untuk menggunakan kayu laminasi sebagai bahan konstruksi; (3) Secara akademis, memberikan wawasan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam pemanfaatan system kayu laminasi sebagai balok konstruksi.

METODOLOGI
Tempat penelitian ini adalah Universitas Negri Semarang, Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil. Waktu penelitian dimulai pada tanggal 28 April 2014 – 14 Juni 2014. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode pengamatan, yaitu mengamati hasil pengujian dengan menggunakan lembar observasi/pengamatan. Analisis yang akan dipergunakan dalam  penelitian ini adalah analisis deskriptip prosentase untuk mengetahu nilai rata-rata hasil pengujian sifat-sifat fisik kayu.  Analisis varians dipergunakan untuk menganalisis perbedaan akibat perbedaan perlakuan variasi laminasi.
Obyek penelitian ini adalah kayu, kayu dengan jenis yang berbeda. Kayu konstruksi dan kayu non-konstruksi.
Adapun Variabel yang ditetapkan dalam penelitian ini, antara lain: (1) Fungsional: setiap kayu laminasi harus dapat digunakan sebagaimana fungsi utamanya sebagai bahan bangunan atau bahan konstruksi; (2) Mudah diperoleh: dapat diperoleh dengan mudah; (3) Terjangkau: berkaitan dengan harga kayu konstruksi bukan laminasi. Kayu konstruksi laminasi harus lebih murah, tetapi dengan kualitas hampir sama.
HASIL DAN PEMBAHASAN
            Hasil penelitian ini meliputi ketercapaian target luaran penelitian, yakni analisis data dan pengujian benda uji,  sebagai berikut: (1) Kadar air kayu; (1.1) Kadar air kayu sengon: terbesar adalah 19,26 %, terkecil adalah 14,15 % dan dengan rata-rata berat jenis kayu sengon adalah 17,10 %. Dapat dilihat pada garifik 1; (1.2) Kadar air kayu jati terbesar adalah 18,75 %, terkecil adalah 14,02 % dan dengan rata-rata berat jenis kayu sengon adalah 15,76 %. Dapat dilihat pada grafik 2: (2) Berat jenis kayu; (2.1) Berat jenis kayu sengon terbesar adalah 0,48 gram/cm3, terkecil adalah 0,40 gram/cm3  dan dengan rata-rata berat jenis kayu sengon adalah 0,45 gram/cm3. Dapat dilihat pada grafik 3; (2.2) Berat jenis kayu jati terbesar adalah 0,88 gram/cm3, terkecil adalah 0,80 gram/cm3  dan dengan rata-rata berat jenis kayu jati adalah 0,83 gram/cm3. Dapat dilihat pada grafik 4: (3) Kuat Geser bidang rekatan kayu (Geser Langsung Laminasi); dari hasil pengujian, didapatkan kuat geser laminasi rata – rata adalah sebesar 26,104 kg/cm2. Dapat dilihat pada grafik 5: (4) Kuat lentur kayu; (4.1) Kuat lentur kayu sengon: hasil penelitian menunjukan bahwa kekuatan lentur kayu sengon sesuai dengan penggolongan kelas kuat dari pengujian berat jenis yaitu kelas kuat V dengan kuat lentur <360 Kg/cm2. Serta dengan acuan pengukuran SNI kayu 2002 kayu sengon masuk dalam mutu kayu E11 dengan kuat lentur 20-22 MPa. Dapat dilihat pada grafik 6 dan tabel 1; (4.2) Kuat lentur kayu laminasi: dengan adanya penambahan laminasi kayu jati pada sisi lemah balok sengon dapat menambah kekuatan lentur sengon rata – rata yang semula 223,751 kg/cm2 menjadi kuat lentur laminasi rata – rata sebesar 422,433 kg/cm2. Dapat dilihat pada grafik 7 dan tabel 2: (5) Modulus elastisitas; (5.1) Modulus elastisitas luntur balok control: hasil perhitungan modulus elastisitas lentur didapatkan modulus elastisitas lentur sengon rata – rata adalah 49503,526 kg/cm2 dan masuk dalam kelas kuat V dimana nilai modulus elastisitas < 60000 kg/cm2. Dapat dilihat pada tabel 3; (5.2) Modulus elastisitas lentur balok laminasi: hasil perhitungan modulus elastisitas lentur laminasi didapatkan modulus elastisitas lentur laminasi rata – rata adalah 66772,164 kg/cm2 dan masuk dalam kelas kuat IV dimana nilai modulus elastisitas 60000 – 80000 kg/cm2. Dapat dilihat pada tabel 4.
Grafik 1. Kadar air kayu sengon.

           



            Grafik 2. Kadar air kayu jati.





Grafik 3. Berat jenis kayu sengon.





Grafik 4. Berat jenis kayu jati.
 





Grafik 5. Kuat geser langsung laminasi.




            Grafik 6. Kuat lentur kayu sengon.





           
            Tabel 1. Kuat lentur kayu sengon.
No
Kode
Ukuran Penampang
Beban Maksimum (kg)
Kuat Lentur (kg/cm2)
Keterangan
Lebar       (cm)
Tinggi      (cm)
Panjang (cm)
1
KLS - 1
7,69
9,82
200
550,00
222,502
Masuk dalam kelas kuat V dengan nilai kuat lentur <360 kg/cm2
2
KLS - 2
8,12
9,78
200
580,00
224,035
3
KLS - 3
7,9
10,1
200
635,00
236,388
4
KLS - 4
8,05
10,3
200
650,00
228,331
Rata-rata
227,814

            Tabel 2. Kuat lentur kayu laminasi.
No
Kode
Ukuran Penampang
Beban Maksimum (kg)
Kuat Lentur (kg/cm2)
Keterangan
Lebar (cm)
Tinggi (cm)
Panjang (cm)
1
KLL - 1
8,21
10,55
200
1150
377,547
Masuk dalam kelas kuat IV dengan nilai kuat lentur 360 - 500 kg/cm2
2
KLL - 2
8,15
10,38
200
1300
444,132
3
KLL - 3
8,32
9,75
200
1150
436,201
4
KLL - 4
8,33
10,21
200
1250
431,852
Rata-rata
422,433




            Grafik 7. Kuat lentur laminasi.


 






           






           


Tabel 3. Modulus elastisitas lentur balok control.


No
Kode
Ukuran Penampang
Modulus Elastisitas (kg/cm2)
Kelas Kuat
Keterangan
Lebar       (cm)
Tinggi      (cm)
Panjang (cm)
1
KLS - 1
8
10
200
42283,298
V
Berdasar modulus elastisitas sengon masuk dalam kelas kuat V dengan E < 60000 (kg/cm2)
2
KLS - 2
8,12
9,78
200
43553,705
V
3
KLS - 3
7,9
10,1
200
57715,399
V
4
KLS - 4
8,05
10,3
200
54461,702
V
Rata-rata
49503,526
V



Tabel 4. Modulus elastisitas lentur balok laminasi.


No
Kode
Ukuran Penampang
Modulus Elastisitas (kg/cm2)
Kelas Kuat
Keterangan
Lebar       (cm)
Tinggi      (cm)
Panjang (cm)
1
KLL - 1
7,94
10,55
200
60836,138
IV
Dengan modulus elastisitas balok laminasi masuk dalam kelas kuat IV, dengan modulus elastisitas E= 60000-80000(kg/cm2)
2
KLL - 2
8,15
10,38
200
67384,650
IV
3
KLL - 3
7,89
9,75
200
70542,681
IV
4
KLL - 4
8,11
10,15
200
68325,186
IV
Rata-rata
66772,164
IV

Laminasi adalah penyatuan beberapa lapis kayu dengan lem pada kedua sisinya kemudian diberi tekanan. Proses pengeleman ini dilakukan mengikuti arah panjang kayu. Setelah dilakukannya penelitian, pemanfaatan kayu jati untuk perkuatan kayu sengon sebagai balok laminasi menyimpulkan bahwa pengujian pada kondisi kadar air kering udara (SSD) kekuatan lentur balok sengon 227,814 kg/cm2 dengan kelas kulat V menjadi produk kayu laminasi dengan kuat lentur 422,433 kg/cm2 dan masuk dalam kelas kuat

 IV, didapatkan peningkatan kekuatan sebesar 194,619 kg/cm2 atau 85,43%.
Sehingga sesuai dengan harapan, bahwa dengan penambahan perkuatan kayu jati pada sisi lemah kayu sengon akan meningkatkan kekuatan yang signifikan serta mempunyai peluang digunakan sebagai bahan konstruksi struktural.
KESIMPULAN
      Penyimpulan hasil penelitian ini guna mengetahui kondisi kadar air kering udara (SSD), kekuatan lentur balok sengon dengan kelas kulat V, kuat lentur  kayu laminasi dengan kelas kulat IV, sehingga dapat mengetahui peningkatan kekuatan dan penambahan perkuatan pada sisi lemah balok akan meningkatkan kekuatan yang signifikan atau tidak, serta mempunyai peluang untuk digunakan sebagai bahan konstruksi struktural rumah sederhana dimana syarat struktural yang tidak terpenuhi dari kayu sengon dapat dipenuhi dengan metode laminasi.
SARAN
            Dari hasil praktikum yang telah dilakukan, ada beberapa saran yang dapat dirangkum untuk pembaca dan penelitian lebih lanjut, antara lain: (1) Pengeleman menggunakan epoksi pada sisi rekatan kayu dimungkinkan terdapat sisi kayu yang tidak merekat sempurna karena kedataran yang tidak seragam, maka perlu ketelitian lebih, dimana kesempurnaan hasil pengeleman sangat mempengaruhi kekuatan kayu laminasi; (2) Untuk mencegah terjadi kerusakan debonding (rusak terjadi pada sisi rekatan) dengan kondisi bahan yang belum mengalami kerusakan maksimal, perlu diperhatikan pada proses pengepressan benda uji saat pengeleman; (3) Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pembuatan balok laminasi agar diperoleh hasil yang baik adalah pemilihan umur bahan kayu laminasi. Karena semakin tua umur kayu maka semakin baik hasil yang diperoleh.